Header Ads

Header ADS

MENUNTUT ILMU MENUNTUT PENGORBANAN, INVESTASI KINI DAN NANTI



Syaikh Az-Zarnuji di dalam kitab Ta’lim Al-Muta’allim menuliskan dua bait syair dari Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu yang artinya:

“Ingatlah! Engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan memenuhi enam syarat. Saya akan beritahukan keseluruhannya secara rinci.
Yaitu: Kecerdasan, Kemauan/Kesungguhan, Sabar, Biaya, Bimbingan Guru, dan Waktu yang lama.”

Ketika kita berharap untuk panen dan menikmati hasilnya, maka harus ada usaha dan pengorbanan. “Man Yazro’ Yahsud”. Barang siapa yang menanam, maka dia yang akan menuai.

Ketika kita memutuskan untuk menuntut ilmu, pasti telah melalui berbagai pertimbangan dan istikharah, karena kita pasti sadar bahwa kita akan dihadapkan pada berbagai resiko, dan itu perlu pengorbanan dan anggaplah bahwa ia adalah investasi jangka panjang yang menguntungkan masa depan kita di dunia dan di akhirat.

Niat, kemauan, keyakinan, dan motivasi yang membuat kita akhirnya memutuskan untuk menuntut ilmu. Niat dan motivasi yang hanya kita dan Allah yang mengetahuinya.

Waktu dan biaya adalah hal yang akan terus menerus dikorbankan dan diinvestasikan selama kita menjalankan kewajiban menuntut ilmu. Sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr yang artinya: ”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. Kita sudah sangat paham tentang makna wajib.

Jangan salahkan waktu, kita yang terlalu sibuk, yang membuat kita tidak lagi punya waktu untuk belajar. Jangan salahkan uang, yang tidak ada untuk keperluan belajar, karena banyaknya kebutuhan dan keinginan yang ada yang membuat kita tidak ada biaya untuk belajar. Tetapi salahkan kita yang tidak bisa memanage keduanya.

Di luar sana, orang lain menghabiskan waktu dan uangnya untuk happy-happy menuruti segala keinginan hati/nafsu agar terpenuhinya kepuasan, kebanggaan, harapan mendapatkan pujian, refreshnya otak/pikiran, senangnya hati karena terbelinya maupun terpenuhinya segala yang diinginkan.

Sementara:
1. Penuntut ilmu harus bersabar, ketika waktu digunakan untuk belajar, berdiskusi, menghafal, mengerjakan tugas, ujian, dan aktifitas lain yang berhubungan dengan ilmu. Padahal sudah sibuk dengan pekerjaan dan keluarga yang menyita waktu.
Maka hanya orang yang mampu memanage waktu lah yang bisa meyempatkan diri untuk belajar.

2. Penuntut ilmu harus bersabar, ketika uang digunakan untuk membayar biaya belajar, membeli buku, foto copy bahan belajar, ongkos pergi belajar, serta keperluan lain yang berhubungan dengan ilmu. Padahal uang sudah diperuntukkan bagi keperluan pribadi serta keluarga.
Maka hanya orang yang mampu memanage keuangan lah yang bisa meyempatkan diri untuk belajar.

3. Penuntut ilmu harus bersabar, ketika guru/pengajar, meminta untuk mengerjakan banyak hal ini itu, yang seolah-olah memerintah dan tidak mengerti posisi kita, dan naudzubillah akhirnya tidak suka bahkan mengeluh, padahal guru/pengajar lebih mengetahui dan akan membimbing kepada kebenaran.
Maka hanya orang yang menghormati ilmu dan guru lah yang bisa meyempatkan untuk belajar, mematuhi mereka untuk mendapat keberkahan.

4. Penuntut ilmu harus bersabar, ketika seolah-olah tidak bisa menyerap dan menguasai ilmu, terlihat seperti orang yang paling bodoh dan tertinggal, dan akhirnya menyerah. Ulama membagi kecerdasan menjadi dua yaitu: yang pertama, muhibatun minallah (kecerdasan yang diberikan oleh Allah). Contohnya seseorang yang memiliki hafalan yang kuat. Yang kedua adalah kecerdasan yang didapat dengan usaha (muktasab) misalnya dengan cara mencatat, mengulang materi yang diajarkan, berdiskusi dan sebagainya.
Maka hanya orang yang bersungguh-sungguhlah yang bisa meyempatkan diri untuk terus belajar.

Banyak nash Al-Qur’an dan Hadits yang menjamin para penuntut ilmu akan memperoleh kebahagiaan dan kemenangan di dunia maupun di akhirat kelak. Namun semua kembali kepada individu masing-masing. Hanya yang mendapat petunjuk dari Allah SWT yang akan melaksanakannya, dan petunjuk-Nya hanya didapatkan karena kita juga berinteraksi dengan orang-orang yang telah diberi petunjuk.

Allah Ta’ala berfirman: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.” (QS. Al Mujadilah: 11). “Apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu? Sesungguhnya hanya orang yang berakallah yang bisa mengambil pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam juga bersabda: “Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). ”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akhirat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi)

Banyak orang yang menuntut ilmu, namun memiliki niat dan motivasinya hanya untuk mendapatkan ijazah saja, sebatas memenuhi syarat dan formalitas karena tuntutan, atau demi mempermudah mendapatkan pekerjaan, maupun untuk meningkatkan posisi agar lebih menaikkan penghargaan yang diterima.

Tapi pada kenyataannya, betapa banyak juga yang memiliki ijazah namun tetap belum mendapat pekerjaan maupun belum mendapat manfaat apapun dari secarik kertas tersebut. Padahal betapa banyak investasi dan pengorbanan yang telah mereka keluarkan selama menuntut ilmu. Tapi akankah ilmu hanya dibatasi oleh lembaran kertas? Tanpa memiliki skill dan kompetensi sebenarnya?

Mereka saja belum mendapatkan apa yang mereka harapkan, apalagi kita yang belum meyempatkan diri untuk menuntut ilmu. Lalu masihkah dan pantaskah kita berharap untuk mendapatkan apapun seperti yang dimiliki oleh mereka (yang banyak investasi dan pengorbanan berbeda dengan kita)?

Selain itu, pendidikan juga berkaitan erat dengan masa depan kita serta keturunan kita, karena tidak selamanya pekerjaan dan posisi kita saat ini akan selamanya kita miliki. Faktor tenaga, produktivitas, kompetisi, kesehatan, bahkan umur pada akhirnya akan memaksa kita untuk beristirahat dari segala aktivitas. Sementara perjalanan hidup keturunan kita terus berlanjut, apa yang sudah dipersiapkan untuk mereka kelak?, kompetisi hidup di dunia saja sudah tidak bisa diprediksi, apalagi keadaan di alam baqa nanti.

Berikut adalah beberapa pendapat ahli yang berkaitan antara tingkat pendidikan, kehidupan ekonomi, dan masa depan keturunan.

Supriatna (2000) menyatakan bahwa kemiskinan merupakan situasi serba kekurangan yang terjadi bukan dikehendaki oleh si miskin, pada umumya ditandai oleh rendahnya tingkat pendidikan, produktivitas kerja, pendapatan, kesehatan, dan gizi serta kesejahteraannya sehingga menunjukkan lingkaran ketidakberdayaan. Selanjutnya dikatakan bahwa kemiskinan disebabkan oleh terbatasnya sumber daya manusia yang dimiliki dan dimanfaatkan terutama dari tingkat pendidikan formal maupun nonformal dan membawa konsekuensi terhadap pendidikan informal yang rendah.

Ditegaskan lagi oleh Helvivito (2012) yang menyatakan bahwa Keadaan ekonomi erat hubungannnya dengan pendidikan anak. Apabila anak hidup dalam keluarga miskin maka maka kebutuhan pokok anak kurang terpenuhi dan kebutuhan pendidikannnya juga tidak terpenuhi sehingga menyebabkan anak meninggalkan pendidikannya. Salim (Helvivito, 2012) menyatakan bahwa pada umumnya anak yang berasal dari keluarga miskin pendapatan hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan primer saja terutama untuk keperluan makan, sedangkan untuk keperluan lain belum dapat diperhatikan. Sunarto (Helvivito, 2012) juga mengatakan bahwa orang tua yang latar belakang ekonominya rendah akan lebih banyak mengharapkan bantuan dari anaknya jika dibandingkan dengan orang tua yang sosial ekonominya tinggi. Sehingga dengan akibat keadaan yang demikian dapat menyita waktu belajar anak untuk membantu orang tua sehingga proses belajarnya jadi terganggu.

Akhirnya, ketahuilah bahwa ‘hasil’ penuntut ilmu akan berbeda dengan mereka yang tidak menuntut ilmu, karena proses tidak akan mengkhianati hasil, dan jika ingin mendapatkan ilmu, siapkanlah bekal. Stop mengeluh! Belajar memanage, dan percaya bahwa Allah SWT akan mempermudah rezeki untuk para penuntut ilmu. Long life education. Wallahu A’lamu Bishawab. (yaruhy)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.